Pernyataan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, publik layak berharap evaluasi tidak berhenti pada klarifikasi saja.
Sebab persoalan utamanya bukan sekadar siapa yang menyawer atau siapa yang naik ke panggung. Persoalan yang lebih besar adalah mengapa dalam sebuah kegiatan yang melibatkan ribuan anak sekolah dasar, pengawasan terhadap perilaku peserta didik bisa sampai kecolongan? Apalagi ketika kegiatan tersebut membawa nama lembaga pendidikan.
Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menjadi ruang edukasi justru menghadirkan tontonan yang berpotensi menjadi contoh keliru bagi anak-anak.
K3S dan seluruh unsur pendidikan terkait kini dituntut membuktikan komitmennya. Bukan hanya dengan mengatakan akan melakukan evaluasi, tetapi juga memastikan setiap kegiatan di luar sekolah benar-benar menjadi bagian dari proses pendidikan yang aman, mendidik, dan memberikan keteladanan.
Sebab anak-anak adalah peserta didik. Mereka bukan sekadar penonton sebuah hiburan. Dan setiap kegiatan yang membawa nama lembaga pendidikan semestinya tetap menempatkan nilai edukasi, etika, serta perlindungan terhadap perkembangan anak sebagai prioritas utama bagi generasi penerus bangsa.
Hingga berita ini dilansir, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, M. Noer Adhim masih belum memberikan keterangan resmi, soal tindak lanjut maupun atensi serta sanksi kepada pihak panitia dan guru.
Penulis : Shereen Mulya



















Komentar