KABUPATEN TANGERANG – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menegaskan pentingnya langkah antisipasi dini terhadap perkiraan kondisi cuaca dan iklim serta penanganan potensi permasalahan sosial di wilayah Kabupaten Tangerang.
Hal tersebut dibahas dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Tangerang yang digelar di Aula Pendopo Bupati Tangerang, Kamis (6/8/2026).
Bupati Maesyal Rasyid menuturkan, Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama Forkopimda telah menyusun langkah-langkah koordinasi lintas sektor guna menjaga kondusivitas wilayah sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga dua bulan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pak camat saya minta terus berkoordinasi dengan Pak Kapolsek, Pak Danramil, serta para kepala desa untuk memonitor kondisi masyarakat di wilayah masing-masing.
Jika ada informasi atau isu yang berpotensi mengganggu kondusivitas, segera lakukan pendekatan dan komunikasi yang baik kepada masyarakat,”ujar Bupati.
Menurutnya, momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi momentum untuk terus memperkuat semangat persatuan, mengenang jasa para pahlawan, serta menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.
Agustusan harus menjadi renungan dan kebanggaan kita dalam mengenang perjuangan para pahlawan, jangan dijadikan momentum untuk hal-hal yang dapat mengganggu ketertiban,” tegasnya.
Selain itu, Bupati Maesyal juga meminta seluruh camat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Terdapat 12 kecamatan di Kabupaten Tangerang yang masuk kategori waspada karena memiliki curah hujan sangat rendah.
Ke-12 Kecamatan tersebut di antaranya: Balaraja, Cisoka, Kresek, Kronjo, Mauk, Pakuhaji, Rajeg, Sepatan, Sindang Jaya, Sukadiri, Sukamulya, dan Teluknaga. Wilayah tersebut, khususnya bagian Utara Kabupaten Tangerang, ditandai dengan warna cokelat pada peta prakiraan curah hujan BMKG yang menunjukkan potensi minim hujan hingga akhir Oktober 2026.
Lanjut dia, BMKG juga mencatat sejak 17 Juni hingga 2 Agustus 2026 atau selama 46 hari, sebagian wilayah tersebut tidak mengalami hujan. Sementara puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga September 2026. Sebagai langkah mitigasi, BMKG juga akan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak kekeringan.
Lanjut dia, BMKG juga mencatat sejak 17 Juni hingga 2 Agustus 2026 atau selama 46 hari, sebagian wilayah tersebut tidak mengalami hujan. Sementara puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga September 2026. Sebagai langkah mitigasi, BMKG juga akan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak kekeringan.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Bupati Maesyal meminta seluruh camat segera mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin timbul, mulai dari kekurangan air bersih, meningkatnya debu, hingga potensi keretakan tanah yang dapat memicu bencana saat hujan kembali turun.
“Khusus penanganan kekurangan air bersih, saya minta segera disiapkan Surat Keputusan Bupati tentang penanganan dampak El Nino. BPBD menjadi koordinator penanganan di lapangan dan berkoordinasi dengan PDAM, Pertamina maupun instansi terkait lainnya untuk memastikan distribusi air bersih kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik,”pintanya. (hms)











Komentar