Lebih dari sekadar seremoni, selamatan dan karnaval menjadi ruang untuk memperkuat persatuan. Warga dari berbagai RW dan RT yang biasanya sibuk dengan aktivitas masing-masing, bertemu dan bekerja sama untuk satu tujuan: merayakan desa.
Keterlibatan pemuda, ibu-ibu PKK, karang taruna, dan komunitas seni lokal membuat karnaval tahun ini terasa lebih hidup. Beragam tema ditampilkan, mulai dari cerita rakyat, potensi pertanian, hingga isu lingkungan yang dikemas dalam bentuk teatrikal dan musik.
Harapan ke Depan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan suksesnya Karnaval Budaya tahun ini, warga dan pemerintah desa berharap kegiatan serupa bisa terus ditingkatkan kualitasnya. Bukan hanya sebagai pesta rakyat, tapi juga sebagai motor penggerak ekonomi dan pelestarian budaya.
Semangat yang ditunjukkan warga Beji sejalan dengan visi Kota Batu untuk mengembangkan pariwisata berbasis komunitas. Ketika budaya dilestarikan, ekonomi bergerak, dan kebersamaan terjaga, maka desa pun tumbuh.
Penutupan karnaval ditandai dengan arak-arakan menuju balai desa. Warga masih bertahan hingga sore hari untuk menyaksikan penampilan seni dan menikmati kuliner dari lapak UMKM.
Bagi masyarakat Beji, karnaval ini adalah pengingat: merayakan tradisi berarti juga merawat masa depan. Dan di usia desa yang ke-148, Desa Beji membuktikan bahwa budaya bisa menjadi jembatan antara masa lalu, kini, dan esok. (Advertorial)
Penulis : Shereen














Komentar