Menurut Deny, proses persiapan hingga pelaksanaan karnaval menjadi ruang interaksi antarwarga. Dari sinilah semangat kebersamaan ditempa. Ia berharap nilai guyub rukun itu tidak berhenti di acara selamatan, tapi terus hidup dalam keseharian masyarakat Desa Beji.
Dihadiri Pejabat Kota Batu
Karnaval ini turut dihadiri sejumlah pejabat. Tampak hadir Camat Junrejo, Parman, Kepala Dinas Pariwisata Kota, Batu Onny Ardianto, http://S.Sos., M.M., serta anggota DPRD Kota Batu Agung Sugiyono.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran unsur pemerintah daerah menjadi bentuk dukungan terhadap inisiatif masyarakat. Bagi Pemkot Batu, kegiatan budaya desa seperti ini dinilai penting karena bisa menjadi identitas sekaligus daya tarik wisata.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, mengapresiasi penuh antusiasme warga Beji. Ia menilai hampir semua penampilan dalam karnaval merupakan karya kreatif masyarakat setempat.

“Melihat antusiasme dari masyarakat ini sangat luar biasa, terutama dari penampilannya yang mayoritas dari masyarakat di sekitar Beji,”kata Onny.
Onny menilai tingginya partisipasi warga menunjukkan budaya masih punya tempat kuat di tengah masyarakat. Ia juga melihat potensi besar untuk mengembangkan karnaval ini menjadi agenda wisata berbasis budaya.
Gerakkan Ekonomi Warga Lewat UMKM
Selain aspek budaya, Onny menyoroti peran UMKM yang ikut meramaikan sepanjang jalur karnaval. Para pelaku usaha mikro menjajakan makanan, minuman, dan kerajinan. Hal ini dinilai memberi dampak ekonomi langsung bagi warga.
“Harapannya selain memperkenalkan budaya Kota Batu juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,”ujarnya.
Menurut Onny, Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata berkomitmen mendukung kegiatan budaya di desa-desa. Ke depan, Karnaval Budaya Desa Beji akan diagendakan lebih terarah dan dipromosikan lebih luas.
<!–nextpage–>
“Kalau dari kita, salah satunya mengagendakan di tahun depan, kemudian membantu mempromosikan terkait kegiatan ini,”tambah Onny.
Ia juga menyinggung bahwa banyak desa di Kota Batu punya tradisi serupa. Jika dikemas dengan baik, kegiatan-kegiatan itu bisa memperkuat branding Kota Batu sebagai kota wisata berbasis budaya dan tradisi.
Selamatan Desa ke-148, Tradisi yang Terus Hidup
Selamatan Desa Beji sendiri sudah berjalan selama 148 tahun. Karnaval budaya menjadi agenda pembuka sebelum rangkaian acara inti lainnya. Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Beji konsisten menjaga warisan leluhur.
Lebih dari sekadar seremoni, selamatan dan karnaval menjadi ruang untuk memperkuat persatuan. Warga dari berbagai RW dan RT yang biasanya sibuk dengan aktivitas masing-masing, bertemu dan bekerja sama untuk satu tujuan: merayakan desa.
Keterlibatan pemuda, ibu-ibu PKK, karang taruna, dan komunitas seni lokal membuat karnaval tahun ini terasa lebih hidup. Beragam tema ditampilkan, mulai dari cerita rakyat, potensi pertanian, hingga isu lingkungan yang dikemas dalam bentuk teatrikal dan musik.
Harapan ke Depan
Dengan suksesnya Karnaval Budaya tahun ini, warga dan pemerintah desa berharap kegiatan serupa bisa terus ditingkatkan kualitasnya. Bukan hanya sebagai pesta rakyat, tapi juga sebagai motor penggerak ekonomi dan pelestarian budaya.
Semangat yang ditunjukkan warga Beji sejalan dengan visi Kota Batu untuk mengembangkan pariwisata berbasis komunitas. Ketika budaya dilestarikan, ekonomi bergerak, dan kebersamaan terjaga, maka desa pun tumbuh.
Penutupan karnaval ditandai dengan arak-arakan menuju balai desa. Warga masih bertahan hingga sore hari untuk menyaksikan penampilan seni dan menikmati kuliner dari lapak UMKM.
Bagi masyarakat Beji, karnaval ini adalah pengingat: merayakan tradisi berarti juga merawat masa depan. Dan di usia desa yang ke-148, Desa Beji membuktikan bahwa budaya bisa menjadi jembatan antara masa lalu, kini, dan esok. (Advertorial)
Penulis : Shereen
Halaman : 1 2















Komentar