KOTA BATU – Ribuan anak-anak dari TK hingga SLTA memadati Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dalam Festival “Nyusu Bareng”, Minggu (4/10/2026). Festival unik yang mengangkat potensi peternakan sapi perah ini mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Batu, H. Nurochman, SH., MH.
Festival tersebut digagas Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu berkolaborasi dengan Kelompok Peternak Sapi Perah Margo Makmur. Tak hanya sekadar seremonial, festival ini menjadi langkah awal memperkenalkan Dusun Brau sebagai destinasi wisata edukasi berbasis potensi lokal.
Ketua Fordewi Kota Batu, Muchamad Dadi, mengungkapkan Dusun Brau memiliki potensi peternakan yang luar biasa. Populasi sapi perah di dusun tersebut bahkan lebih banyak dibanding jumlah penduduknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Melihat potensi yang ada, kami dari Forum Desa Wisata Kota Batu ini menganggap perlu untuk mengangkat, mempromosikan kemudian memperkenalkan,” ungkap Dadi.
Menurutnya, melimpahnya produksi susu segar menjadi modal besar yang harus dikemas menjadi daya tarik wisata. Antusiasme ribuan anak yang ikut merasakan pengalaman memerah dan minum susu segar langsung dari sumbernya menjadi bukti konsep ini diterima masyarakat.
Daya tarik festival ini juga dilirik industri pariwisata. Sebanyak 30 travel agent dari Jawa-Bali hadir langsung untuk melihat potensi Dusun Brau agar bisa dimasukkan dalam paket wisata Kota Batu.
*Diapresiasi Wali Kota Batu*
Wali Kota Batu Nurochman memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif tersebut. Ia menilai Festival “Nyusu Bareng” menghadirkan konsep baru pariwisata Kota Batu yang tidak hanya mengandalkan alam.
“Atas nama Pemerintah Kota Batu memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif yang luar biasa ini di Dusun Brau,” kata Nurochman dalam sambutannya.
Ia mencatat, Dusun Brau memiliki 2.500 ekor sapi penghasil susu dengan produksi mencapai 10 ribu liter per hari.
“Ini dalam rangka mengangkat potensi yang ada di Dusun Brau. Ada 2.500 ekor sapi penghasil susu dengan jumlah 10 ribu liter per harinya. Ini adalah potensi yang harus dipotret dan dikelola,” tandasnya.
Nurochman menekankan, potensi besar itu harus diimbangi tata kelola yang baik agar memberi dampak ekonomi nyata bagi warga tanpa menghilangkan karakter asli sebagai kampung peternak.
Ia pun meminta Dinas Pariwisata untuk melakukan pendampingan berkelanjutan dan Dinas PU untuk memperbaiki akses infrastruktur menuju Dusun Brau.
Halaman : 1 2 Selanjutnya














Komentar